Tampilkan postingan dengan label Makan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Makan. Tampilkan semua postingan

01 April 2008

Aroma Makassar di Batam

Weekend kemarin diajak teman jalan-jalan ke pantai. Awalnya sempat bingung mau ke pantai yg mana dikarenakan Batam memiliki banyak pantai yg cantik. Setelah melalui diskusi kecil akhirnya diputuskan untuk jalan ke Pantai Nongsa yg terletak di bagian timur laut Pulau Batam. Hanya butuh waktu sekitar 45 menit untuk mencapai Kawasan Nongsa dari kostan kami di Daerah Tiban. Nongsa menjadi daerah tujuan wisata tidak hanya untuk wisatawan domestik, tetapi juga untuk wisatawan asing, terutama dari Singapura karena lokasinya memang berhadapan langsung dengan Singapura, apalagi di daerah ini juga terdapat Nongsapura Ferry Terminal yg memudahkan penyeberangan laut Batam - Singapura. Untuk penginapan tidak perlu khawatir karena di daerah ini bertebaran resort dan hotel, seperti Turi Beach Hotel, Batam View, Nongsa Point Marina, dll. Selain itu juga terdapat lapangan golf, fasilitas olah raga air, maupun rumah makan yg langsung menghadap ke laut. Sayang sekali keindahan pantai itu hanya bisa dinikmati melalui fasilitas hotel atau resort karena pantai rakyat yg disediakan untuk umum malah terkesan kurang terawat dengan fasilitas seadanya.

Karena tidak menemukan lokasi yg enak buat nongkrong plus cuaca yg super panas akhirnya kami memutuskan untuk mencari lokasi lain. Kami pun mengarahkan mobil ke Batam Center. Niatnya mau main ke Coastarina, sebuah kompleks perumahan elit yg dikelilingi oleh laut yg konon disulap menjadi tempat wisata oleh warga Batam. Sebelum sampai di Coastarina, kami mampir dulu buat makan karena perut yg sudah keroncongan minta diisi. Pilihan pun akhirnya jatuh ke rumah makan khas Makassar yg terletak di Batam Center. Meskipun temanku yg lain bukan orang Sulawesi –Jawa, Banjar, Ambon– tapi semuanya pernah tinggal di Makassar sehingga masakan khas Makassar bukan sesuatu yg asing buat mereka, bahkan mereka pun doyan dengan masakan Makassar.

Nah, ini nih beberapa menu yg kami pesan kemarin :

Coto Makassar. Ini menu utamanya. Terbuat dari irisan daging plus jeroan sapi (hati, usus, termasuk lidah) yg dimasak dengan aneka macam bumbu dengan rasanya yg sangat khas. Konon Coto Makassar dahulu dibuat dengan menggunakan 40 macam rempah-rempah yg tidak hanya berfungsi sebagai penyedap masakan, tetapi juga berfungsi sebagai penawar zat-zat kurang baik yg terdapat di dalam jeroan sapi. Rasanya enak. Harganya pun cukup murah. Kita hanya perlu merogoh kocek sebesar Rp. 12.500,- per porsi. Kalau di kota asalnya, Makassar, makanan ini biasanya dihidangkan dengan menggunakan mangkuk berukuran sangat kecil, sehingga sekali makan bisa menghabiskan dua sampai tiga mangkuk. Tetapi di kota lain seperti Jakarta dan Batam, mangkuknya menggunakan mangkuk ukuran normal, sehingga satu mangkuk pun cukup mengenyangkan.

Kalau yg ini pasti semua sudah tau. Ya, namanya ketupat. Biasanya Coto Makassar dihidangkan bersama ketupat atau burasa. Bedanya, ketupat dibuat dari beras yg masih mentah yg dimasukkan ke dalam kemasan yg terbuat dari daun kelapa yg masih muda, sedangkan burasa dibuat dari nasi setengah matang yg dicampur santan dan dibungkus daun pisang. Tampilannya sih lebih bagus ketupat, tapi dari segi rasa burasa lebih enak.

Nah, kalau kedua gambar berikut adalah makanan penutup. Yang pertama namanya Es Pisang Ijo. Disebut pisang ijo karena terbuat dari pisang yg dibungkus tepung terigu berwarna hijau. Warna hijau-nya muncul tidak dari zat pewarna makanan, tetapi dari air daun pandan yg dicampur santan yg tidak hanya berfungsi memberikan warna tetapi juga sekaligus memberikan aroma yg khas. Disajikan dengan menggunakan sejenis saos putih yg mirip bubur sumsum yg rasanya manis. Ditambah sedikit sirup plus es serut membuat rasanya enak dan segar. Harganya? Cukup murah, satu porsi hanya dihargai Rp. 7.500,-.

Yang kedua namanya Es Pallubutung. Jenis makanan ini masih saudara sepupu dengan Es Pisang Ijo. Bedanya, kalau es pisang ijo dibungkus tepung terigu berwarna hijau, es pallubutung dibiarkan ‘telanjang’ tanpa pembungkus apa pun. Hanya terbuat dari potongan-potongan pisang yg sudah direbus yg disajikan dengan saos putih plus sirup dan es serut. Rasanya tidak kalah enak dibandingkan dengan es pisang ijo. Harganya pun sama dengan es pisang ijo.

Foto Kanan (ki-ka) : Dasroel (Makassar), Yose (Banjar), Arief (Jogja), Agustu (Ambon)

Rasanya cukup ya laporan jalan-jalan kali ini. Bagi warga Batam yg ingin mencoba masakan khas Makassar tinggal mampir aja ke Rumah Makan Aroma Makassar yg terletak di Kompleks Masakan Khas Daerah No. 19 Batam Center. Selain jenis makanan di atas, di sana pun tersedia jenis masakan lain yg diolah dari bahan dasar ikan, udang, cumi, kepiting, dll. Tapi, kalau mau kesana jangan lupa ngajak aku ya :D

Ups, jadi lupa cerita tentang Coastarina. Setelah makan kami pun lanjut ke Coastarina yg sayang sekali ketika kami tiba di sana ternyata tutup. Kami hanya bisa nongkrong sejenak di jalan menuju ke sana yg pada sore hari ramai pengunjung, baik yg sekedar ingin jalan-jalan, berolah raga (jogging atau bersepeda), belajar nyetir, berjualan makanan dan minuman, atau bahkan banyak juga yg pacaran sambil menikmati sunset. Kami tidak berlama-lama di sana karena kesulitan mendapatkan tempat untuk Sholat Ashar. Tujuan selanjutnya adalah Mega Mall yg lokasinya tidak terlalu jauh dari Coastarina. Di sana kami numpang sholat dan membeli beberapa keperluan. Niat awalnya jalan-jalan ke pantai malah berakhir di mall. Ujung-ujungnya mall juga. Gara-gara Batam kebanyakan mall nih :D


terusin baca yuk!